Benarkah BLSM Hanya Untuk Orang Miskin?

Benarkah bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) hanya untuk orang miskin? Pertanyaan ini timbul ketika saya melihat berita televisi dan juga langsung di kantor pos penyalur BLSM, dimana pada kenyataannya penerima tidak seperti orang miskin atau kaum duafa. Jujur saja, melihat kenyataan penerima BLSM sebagai salah satu dari kompensasi kenaikan harga BBM, pemahaman arti kata miskin sejak kecil tidak relevan lagi. Bahkan hebatnya lagi kata miskin dalam kasus BLSM bukan hanya sekedar tidak cocok lagi dengan kamus bahasa, tapi juga tidak cocok berdasarkan kitab suci Alquran (saya yakin di kitab agama lain pun demikian)

Pemahaman kata miskin secara umum adalah orang tidak mampu dan hidupnya serba kekurangan, meskipun dia itu sudah bekerja keras banting tulang. Nah, melihat beberapa calon penerima BLSM secara langsung atau melalui berita, ternyata mereka banyak yang memiliki hand phone, mengenakan perhiasan emas dan memiliki sepeda motor, berpakaian bagus layaknya menghadiri sebuah perayaan atau undangan. Tidak ada penerima BLSM berpakaian compang-camping seperti orang miskin! Apakah mereka yang mengenakan emas, mengendarai sepeda motor dan berpakaian tidak seperti orang miskin itu layak menerima BLSM?

Dibawah ini adalah arti dan pengertian kata miskin dari kamus online:

2. tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah): para mahasiswa melakukan kegiatan sosial untuk membantu orang-orang –; biar — asal cerdik, terlawan jua orang kaya, pb kebijakan itu lebih utama dp kekayaan; — papa sangat miskin; me·mis·kin·kan v menjadikan (menyebabkan dsb) miskin: penjajahan telah – sebagian besar bangsa di dunia; pe·mis·kin·an n 1 hal (usaha) memiskinkan; 2 proses, cara, perbuatan memiskinkan: kenaikan harga barang, tarif angkutan, dsb akan membawa dampak pd penderitaan dan mengarah kpd – sebagian rakyat; ke·mis·kin·an n hal miskin; keadaan miskin; – absolut situasi penduduk atau sebagian penduduk yg hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yg sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yg minimum (www.artikata.com)

Sedangkan sebagian pengertian miskin dalam Islam adalah sebagai berikut:

Dalam ayat 273 Qs Al Baqoroh telah dijelaskan mengenai pengertian orang miskin. Kemudian ayat tersebut diperjelas dengan hadis ini. Rasulullah Saw bersabda: “bukan dinamakan orang miskin orang yang berkeliling untuk meminta-minta, lalu pergi setelah mendapatkan sebiji atau dua biji korma, sesuap atau dua suap makanan, atau bekal untuk sekali atau dua kali maka. Akan tetapi orang miskin itu adalah orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya, namun keadaannya tersebut tidaklah diketahui oleh orang-orang supaya dia diberi sedekah, serta tidak pula suka meminta-minta kepada orang lain”. (HR. Bukhari dan Muslim). (sumber: nurulinayah)

Dari dua refferensi diatas, jelas sekali penerima BLSM itu salah sasaran, karena pada umumnya penerima BLSM itu pada usia produktif dengan berbagai pernak-pernik perhiasan dan kendaraannya. Penerima BLSM itu pasti hanya mau uang BLSM, tapi tidak mau disebut miskin. Coba saja kita beri selembar uang seribu rupiah pada salah penerima yang sedang antri BLSM di kantor pos, pasti ribut! Bukankah mereka itu pantas diberi selembar ribuan, karena mereka dalam kategori miskin? Kalau itu terjadi, berarti sebenarnya mereka itu bukan orang miskin. Bagaimana perhitungan dan penilaiannya, hingga mereka disebut miskin dan berhak atas BLSM? Satu lagi yang mengerikan adalah, program kompensasi kenaikan BBM dengan BLSM adalah bukan memulihkan atau mengentaskan kemiskinan, tapi malah memiskinkan (lihat arti kata diatas).

Heran, hanya karena ‘uang’ kompensasi kenaikakn BBM, berbondong-bondong masyarkat Indonesia suka disebut rakyat sangat miskin. Saya katakan demikian, karena pada wawancara wakil presiden Budiyono dengan salah satu televisi swasta kerap mengutarakan kata ‘BLSM itu untuk rakyat sangat miskin’. Bisa dibayangkan bagaimana wajah mereka yang disebut sangat miskin itu. Namun, pada kenyataannya sama sekali berbeda, mereka datang dengan tersenyum tanpa beban seperti orang miskin, berpakiain bagus, berperhiasan emas dan datang serta pergi dengan sepeda motornya masing-masing.

Ada juga berita penerima BLSM itu orang berada dan memiliki beberapa usaha, lalu bagusnya BLSM ini ditolak. Kenyataan ini adalah gambaran ketidakberesan kerja program BLSM. Itu baru salah kaprahnya data penerima BLSM, lalu apa lagi yang ingin dicapai dari program BLSM ini kecuali hanya untuk kepentingan politik semata. Kepentingan pencitraan dibalik program BLSM bisa saja terjadi, karena memang dalam waktu dekat adalah pestanya para politikus, bukan pesta demokrasi rakyat seperti dahulu kala. Bila tujuan BLSM itu jelas dan baik, pasti penerima BLSM juga tepat sasaran dan tidak seperti saat ini. Jadi wajar sebagian masyarakat sadar dan berilmu menolak pemberian BLSM dan tidak mau disebut ‘masyarakat sangat miskin”.

Kalau penerima BLSM saat ini tidak tepat sasaran, lalu sasaran tepatnya bagimana? Nah, ini mungkin tidak pernah atau dilupakan oleh kenaifan penguasa. Salah sasaran penerima BLSM itu bukan berarti rakyat Indonesia itu sudah mampu dan tidak lagi banyak orang miskinnya, tapi salah sasaran ini menurut saya adalah kekeliruan penilaian dan pendataan. Semiskin-miskinnya rakyat di Indonesia, mereka mampu bertahan hidup dan tidak merugikan siapapun, berbeda dengan orang miskin yang berada di jajaran pelaku tindak korupsi. Nah, mereka itu bisa dikatakan miskin total, selain miskin moral juga miskin harta. Para koruptor sangat pantas menerima BLSM!

Menurut saya, BLSM itu sangat dibutuhkan oleh para jompo, yatim atau anak-anak para korban bencana seperti bencana alam, seperti stunami Aceh atau di beberapa daerah lainnya, korban letusan gunung merapi 3 tahun lalu, atau anak-anak dari veteran yang gugur selagi tugas. Itu baru tepat diberi BLSM, bukan disawer mengatasnamakan kemanusiaan dan perhatian penguasa pada rakyat. Bohong itu! Bisa jadi BLSM itu disebut gaji ke 15 atau penghasilan tambahan bagi mereka yang pemalas dan suka disebut sangat miskin tapi tidak miskin. Anak-anak yatim prajurit TNI yang gugur disaat tugas dan saat ini masih kecil atau masih sekolah itu perlu dibantu oleh program seperti BLSM, hingga mereka selesai pendidikannya. Itu hal wajar, karena orang tua mereka memberikan nyawanya demi negara ini dengan gratis.

Orang tua mereka menandatangani kontrak mati dengan negara, bahwa hidup dan jiwanya untuk negara kesatuan Republik Indoenesia, bukan tanda tangan palsu seperti anggota DPR-RI agar dapat jatah sidang. Mereka itu sangat pantas menerima program BLSM, bukan masyarkat pemalas dan berjiwa kerdil. Hidup ini keras dan harus dihadapi tanpa harus berbohong, tanpa harus merasa miskin, apalagi senang disebut sebagai rakyat miskin. Tidak malukah Indonesia, bila melihat Ronaldo menjadi bapak angkat dari seorang anak korban bencana stunami Aceh. Bukankah itu adalah tanggung jawab pemerintah sebagai orang tua tunggal negeri ini. Malu dong! Mereka itulah semestinya yang berhak menerima disamping beberapa masyarakat yang dalam perhitungan dan penilaiannya adalah benar-benar miskin, tidak seperti penilaian penerima BLSM saat ini.

Kata Presiden SBY, “rakyat diminta mengawal pelaksanaan BLSM, agar tidak terjadi penyalahgunaan dilapangan”. Untuk itulah saya tulis artikel ini, karena memang penerima BLSM sudah salah sasaran dan mungkin salah kaprah. Untuk penyebab saya tidak tahu, namun yang saya tahu hanya kata miskin tidak seperti pada program BLSM. Pada program BLMS sudah tidak lagi padu pada arti dan pengertian kata miskin sebenarnya. Jadi wajarlah bila salah menilai dan menentukan siapa saja masyarakat yang masuk dalam kategori ‘sangat miskin’. Untuk pengawalan rasanya tidak terlalu berpengaruh, karena setiap hari ada demo pun suasana tidak pernah berubah. Acuh tak acuh! jadi percuma saja dikawal, biarkan saja niat dan intrik dibalik BLSM itu berjalan.  Bagi siapapun yang mengerti, program BLSM itu layaknya ‘merpati pos pembawa pesan’, ini bukti kebaikan dan perhatian penguasa pada rakyat disaat-saat mendekati pesta pemiluDiakhir tulisan ini, bila ada pertanyaan “benarkah BLSM hanya untuk orang miskin?” Jawabannya benar sekali, tapi bukan bagi mereka yang senang disebut miskin, malah lebih dasyatnya disebut ‘masyarakat sangat miskin’.  BLSM akan sangat membantu bagi orang miskin yang bekerja keras tanpa meminta dan mengemis, tanpa memohon ‘Kartu Tanda Miskin” karena mereka sadar dan bahwa mereka masih memliki kekayaan ‘hakiki’. Apa itu? Yaitu masih kaya iman, masih bisa menghirup udara segar di pagi hari dan bermimpi indah di malam hari. Itulah kekayaan yang sebenarnya. Mereka banyak bertebaran di bumi nusantara ini, mereka hidup apa adanya, tanpa mau dibodohi atau ditipu akal bulus. Merekalah seharusnya yang masuk pada penilaian dan diberi bantuan BLSM, bukan bantuan BLSM plus sebutan rakyat miskin. Satu lagi kritik, dari jaman kemerdekaan, baru pemerintahan sekarang ini yang senang sekali menyebut kata miskin untuk rakyatnya sendiri. Loyo! Terima kasih, peace!!

Tentang Griya PMI Asri

Perumahan Griya PMI Asri Desa Cikahuripan Kecamatan Klapanunggal RW 14 Jawa Barat - Bogor
Pos ini dipublikasikan di BLSM/BALSEM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s